Oleh: Walidah Awaliah*

Santri Dormitory Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka merealisasikan pernyataan produktif di masa pandemi ini. Sebuah gagasan yang diusung dan dikaji menjadi tema di dalam kegiatan Pengajian Daring Dormitory  yaitu “Fenomena Hijrah Muda-Mudi Muslim Millenial, Antara Eksistensi dan Esensi” pada pertemuan Kedua ini hari Kamis (24/12). Pengajian ini dimaksimalkan via daring melalui aplikasi zoom meeting dan kajian tersebut diisi oleh Kepala UPT Rusunawa, Dr. Irwan Badilla, M.Pd. Harapan besar kajian ini menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh santri dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi Bisnis, Fakultas Teknik, dan Fakultas Kedokteran di masa pandemi atau pasca pandemi nanti.

Kata hijrah kerap kali kita dengar sebagai suatu bentuk wujud manusia memperbaiki diri lebih baik. Kata hijrah berasal dari bahasa arab yaitu ha ja ra. Dalam islam, hijrah selalu dihubungkan dengan perpindahan dari yang belum baik menjadi baik, rela berkorban untuk Allah SWT. Berhijrah bukanlah suatu perihal yang mudah untuk dilakukan, meninggalkan dari yang keburukan menuju kepada kebaikan,.Lalu, sudahkah kita benar-benar berhijrah karena Allah atau hanya sekedar mencari eksistensi belaka?

Pada pengajian kali ini, Dormitory Uhamka membahas mengenai fenomena hijrah dikalangan kaum milenial. Dalam sebuah penelitian teori, disebutkan bahwa generasi milenial terbagi atas 3 generasi, yaitu generasi baby boomer, generasi X dan generasi Z, tiap-tiap generasi milenial memiliki kecendurungan untuk terus melakukan perubahan, karena sejatinya manusia merupakan makhluk yang berpikir, berperasaan, dan terkadang memiliki sifat egoisentris. Dr. Irwan Badilla sebagai pemateri mengatakan, bahwa madrasah hijrah, merupakan perbuatan kebaikan atau selalu menuju kepada berbuat yang baik, perubahan yang baik mencakup bidang kehidupan, hijrah selalu menghendaki agar manusia selalu berubah, dari hari kemarin, esok dan hari yang akan datang, lebih luas makna hijrah itu bisa dimaknai secara fisik, berpindah tempat, secara batin dari perasaan yang jelek cenderung kepada kebaikan, yang syariah kepada yang tidak syariah.

Bisa juga dikatakan hijrah itu Hijrahnya sebuah fenomena hanya eksistensi atau esensi, bisa dikatakan fenomena eksistensi bisa juga menjadi esensi, yang perlu ditegaskan adalah pribadi diri sendiri. Apakah hijrah merupakan keinginan dan pilihan diri sendiri, merupakan sebuah proses hijrah yang esensi, para milenialis sedang berupaya untuk hijrah pada tempat sesungguhnya,  Hijrah bukan sekedar perkataan ingin berubah namun harus diperkuat dengan tekad dari hati, karena hijrah harus autentik, kuat landasan pengetahuannya, pemahamannya, jangan sampai terpengaruh oleh keadaan lingkungan, kekuatan itu bisa diperoleh dengan pemahaman yang benar.

Generasi milenial saat ini memiliki ambisi, berlomba-lomba untuk memperlihatkan kebaikan melalui media sosial, gemar memposting segala suatu hal yang dilakukan untuk dilihat para pengikut, namun bisa juga dikatakan hal tersebut sebagai salah satu cara untuk mengajak berbuat kebaikan pula dan meninggalkan kemaksiatan, tergantung dari cara berpikir seseorang yang melihat hal tersebut. Bisa dikatakan pula, hijrah sebagai suatu esensi adalah keinginan kuat dari dalam diri seorang, berusaha keras menahan diri dari keburukan dan menikmati setiap perubahan yang terjadi dalam setiap kehidupannya untuk menjadi lebih baik.

Menilai hijrah merupakan suatu eksistensi ataukah esensi, hanya bisa diartikan oleh diri sendiri yang melakukan hijrah, karena semua perbuatan balik lagi kepada niat dalam hati. Yang harus kita lakukan sebagai generasi milenial yang sama-sama berada pada tahap berhijrah adalah saling mengapresiasi bukan menjustifikasi, karena hijrah tanpa dukungan dari teman dekat atau keluarga sulit dilakukan, sebagai sesama muslim haruslah saling mendukung kepada kebaikan dan mengingatkan jika sudah berbuat kepada kesalahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *