Oleh: Istiqomah Ramdhaniyah*

Santri Dormitory Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka merealisasikan pernyataan produktif di masa pandemi ini. Sebuah gagasan yang diusung dan dikaji menjadi tema di dalam kegiatan Pengajian Daring Dormitory  yaitu “Ontologi Kebahagiaan, Antara Bayangan Idealisme dan Materialisme di Era Post-Truth” pada pertemuan Kedelapan ini hari Kamis (04/02/21). Pengajian ini dimaksimalkan via daring melalui aplikasi zoom meeting dan kajian tersebut diisi oleh Staff Pengajar Dormitory dan Asisten Dosen Prodi Sejarah UHAMKA, Ahmad Ruslan, M.Pd. Harapan besar kajian ini menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh santri dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi Bisnis, Fakultas Teknik, dan Fakultas Kedokteran di masa pandemi atau pasca pandemi nanti.

Maksud dan tujuan diselenggarakannya kegiatan ini guna menambah pengetahuan dan wawasan santri Dormitory UHAMKA. Kegiatan dimulai dengan pembukaan singkat oleh moderator dan dilanjut dengan penyampaian materi oleh pembicara, yaitu Ahmad Ruslan, M. Pd. Beliau mengatakan bahwa topik tersebut harus dibedah terlebih dahulu sebelum memperdalamnya karena ada beberapa variabel penting yang menjadi kata kunci pembahasan pengajian kali ini meliputi ontologi, kebahagiaan, idealisme, materialisme, dan post-truth.

Pada buku yang bertajuk Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer yang ditulis oleh Jujun S. Sumantri, ada tiga hal berbicara mengenai kajian filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi biasa disebut sebagai hakikat atau fenomenologi. Epistimologi berbicara mengenai asal usul atau sejarah suatu hal.  Aksiologi berbicara mengenai manfaat suatu hal. Ketika kita mengambil contoh pada Prodi Matematika dengan kacamata ontologi maka pertanyaan yang dilontarkan adalah apa hakikat matematika, apakah matematika sebagai hitung-hitungan, apakah seluruh hal yang menyangkut matematika adalah angka.

Idealisme menurut Hegel (1770-1831) merupakan kekuatan fisik dan hukum alam itu memang ada tetapi keberadaannya merupakan manifestasi dari kekuatan atau kenyataan yang sejati dan lebih tinggi, yakni Roh Absolut. Ciri-ciri idealisme antara lain bersifat spiritual, esensi kenyataan adalah berpikir, tidak dapat diukur, dan menggunakan metafor kesadaran manusia. Misalnya kita mencintai orang tua, anak atau kakak adik.

Sebaliknya materialisme menurut Abidin (2011) merupakan alam spiritual atau jiwa, tidak menempati ruang, tidak bisa disebut esensi kenyataan, dan oleh karena itu ditolak keberadaannya. Ciri-ciri materialisme antara lain bersifat materiil atau fisik, menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan, bisa diukur, dihitung, dan diobservasi. Jadi kita berbicara mengenai kecenderungan saat ini adalah materialisme. Padahal apabila kita membahas kenyataan seluruhnya ada yang tidak dapat diukur, dihitung, ataupun dikalkulasikan. Misalnya orang-orang positivisme menganggap bahwa sesuatu yang benar adalah sesuatu yang dapat dilihat, diukur, dirasa, dihitung, dll. Maka dari itu kecenderungannya mereka akan bersikap skeptis terhadap hal-hal yang berbau spiritual dan lain sebagainya.

Lalu pada era post-truth saat ini kita dalam keadaan banjir informasi. Problem masyarakat bukan pada bagaimana mendapatkan berita melainkan kurangnya kemampuan mencerna informasi yang benar. Sejarah era post-truth dalam buku Word of the Year (Oxford) tahun 2016, jumlah penggunaan istilah post-truth meningkat 2000 persen bila dibandingkan dengan tahun 2015.

Ada pun dua momen besar pada era post-truth, yaitu keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) serta terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Fenomena pada masa tesebut adalah informasi-informasi hoax atau kebohongan memiliki pengaruh yang jauh lebih benar ketimbang fakta yang sebenarnya.

Salah satu tokoh post-truth adalah Lee Mclntyre yang dimana menurutnya ada empat hal yang dibahas pada era tersebut, yaitu akar psikologis manusia, kemajuan era media sosial, masyarakat feudal, dan sikap skeptis kepada kebenaran. Selanjutnya pandangan Islam mengenai hal ini apabila kita membaca hadist nabi yang berbunyi, Rasulullah SAW pernah mengingatkan pada kita: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “ Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Ada tawaran dari Socrates, gurunya Plato dan Aristoteles. Beliau menyatakan informasi yang kita terima adalah benar, baik, dan bermanfaat. Kemudian pandangan filsafat etika atau moral terbagi tiga macam, yaitu teleologi (tujuan), deontologi (kewajiban), dan utilitarianism (manfaat). Kebahagiaan terbagi atas empat hal, yaitu eudaimonia, stoikisme, hedonisme, dan sufisme.

Tokoh pada eudaimonia ialah Socrates, Aristoteles, dan Plato. Eudaimonia menurut Plato, berbicara mengenai pemenuhan unsur jiwa ada akal, ruh, dan nafsu. Keutamaan yang paling utama adalah kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan sikap tahu diri. Menurut Socrates, hakikat kebahagiaan meliputi tujuan hidup, keutamaan (Anate), pengetahuan (Episteme) yang benar, perilaku yang benar, dan bahagia (Eudaimonia). Mengutip perkataan Socrates terhadap kebahagiaan, “Makan enak, baju indah, dan segala kemewahan itu yang kau sebut kebahagiaan? Namun aku percaya suatu keadaan dimana orang tidak mengharapkan apa-apa adalah kebahagiaan tertinggi.”

Stoikisme berasal dari Yunani kuno-Romawi. Tokohnya adalah Marcus Aurelius (Kaisar Romawi), Epictetus (budak), dan Seneca (Penasihat Kaisar). Cara pandang stoikisme terhadap kebahagiaan meliputi memandang penderitaan atau rasa sakit dari kejauhan dan memandang semua orang adalah saudara. Cara untuk menjadi bahagia, yaitu tidak terlalu berekspektasi dalam hidup, berusaha untuk tetap tenang karena siap masalah dipandang bukan sesuatu yang prioritas, dan tetap berjalan sesuai dengan peran atau sebagaimana mestinya. Jadi stoa tidak menawarkan bagaimana caranya menyesuaikan masalah tapi menawarkanjalan untuk menafsir ulang setiap peristiwa yang ada termasuk potensi penderitaan, kekecewaan, kesedihan, dan kepedihan hidup lainnya.

Tokoh hedonisme adalah Epicuros, menurutnya kebahagiaan itu didapat dari sesuatu yang menyenangkan dan baik sekarang, di sini, dan waktu yang panjang. Kemudian ketentraman jiwa dengan hidup yang bahagia disebut dengan ataraxia terbagi dua hal, yaitu keinginan alami yang perlu seperti makan dan keinginan alami yang tidak perlu seperti makan-makanan mahal. Pandangan Al Ghazali terhadap bahagia itu mudah, kita sudah diberi banyak kenikmatan. Tingkatan kenikmatan menurutnya ada lima, yaitu nikmat ukhrawiyah (kebahagiaan akhirat melalui keimanan dan ketaqwaan), nikmat nafsiyah (keutamaan jiwa dan akal yang disempurnakan dangan ilmu, bersikap hati-hati, berani, dan adil dengan kesadaran), nikmat badaniyah (keutamaan badan berupa kesehatan, kekuatan badan, keelukan, dan panjang umur), nikmat kharijah (kenikmatan di luar diri seperti kesehatan, keluarga, kehormatan, dan lain-lain), dan nikmat tawfiqiyah (kenikmatan taufik berupa kesadaran bahwa Allah sayang pada diri kita).

Dengan demikian kebalikan dari kebahagiaan adalah penderitaan. Seorang filsuf Jerman, Arthut Schopenhauer menjelaskan cara mengurai penderitaan ada tiga jalur, yakni jalur estetis yaitu dengan melukis, membuat puisi, mendengarkan murottal, dll. Kedua, jalur etis, yaitu melakukan kebaikan, menolong orang lain, dll. Ketiga, jalur asketis, yaitu memberikan jarak dengan dunia dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Apabila kita ingin bahagia, tidak perlu mengukur hal yang ada pada diri kita dan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *